Jangan Asal Nulis! Ini Cara Menentukan Target Pembaca agar Blogmu Cepat Berkembang
Aku mau jujur nih.
Dulu, waktu pertama kali ngeblog, aku nulis tanpa mikir siapa yang bakal baca. Pokoknya nulis aja asal ada ide, langsung posting.
Hasilnya? Tumpukan artikel yang terasa terlalu umum, nggak nyentuh siapa-siapa, dan akhirnya blog itu mati pelan-pelan kayak lampu yang kehabisan baterai. (wkwk)
Awalnya aku pikir, “Ah, mungkin tulisanku jelek.” Tapi ternyata bukan itu masalah utamanya. Aku baru nyadar belakangan: blogku gagal karena aku nggak tahu siapa yang mau diajak bicara. Aku ngejar semua orang, eh malah nggak nyampe ke siapa-siapa.
Nah, mungkin kamu juga pernah ngalamin hal yang sama?
Udah semangat nulis, tapi kok sepi pembaca, apalagi yang ngasih cuan. Tenang, kita sama. Dan di artikel ini, aku mau bagi cara sederhana yang bikin blogmu punya arah, yaitu dengan menentukan target pembaca.
Blog itu bukan sekadar tempat numpahin ide. Lebih dari itu, blog adalah wadah buat bantu seseorang lewat tulisan.
Bayangin kayak lagi ngobrol di warung kopi kalau kamu nggak tahu siapa lawan bicaramu, obrolannya pasti nggak nyambung. Kamu cerita tentang politik, eh ternyata dia cuma pengen dengerin tips naik gaji gk match gitu lho.
Nah, dengan tahu siapa yang lagi kamu ajak ngobrol, kamu bisa:
- Nulis lebih fokus dan mendalam, ini ngasih kamu kelebihan berbanding orang lain yang hanya nulis pake ai yang semuanya sama
- Bikin konten yang bener-bener menjawab masalah mereka, kamu bisa share pengalaman kamu karna kamu tau siapa mereka
- Dan akhirnya, blogmu jadi lebih cepat berkembang karena kamu punya pembaca setia bahkan kadang jadi raving fans
Tanpa berlama-lama ini dia cara nentuin target pembaca biar trafik blog kamu melejit:
Langkah 1 – Kenali Siapa yang Ingin Kamu Bantu
Stop nulis “untuk semua orang”.
Mulai sekarang, coba tentukan satu tipe orang yang paling ingin kamu bantu. Caranya? Gampang. Ajukan dua pertanyaan ini ke diri sendiri:
- Siapa orang yang paling aku ngerti masalahnya?
- Siapa yang bisa aku bantu lewat pengalaman atau ilmu yang aku punya?
Misal nih, kamu bisa fokus ke: “pekerja kantoran usia 30-an yang pengen punya penghasilan sampingan dari ngeblog”, atau “karyawan pabrik yang mau bangun personal brand lewat tulisan”.
Coba bikin profil singkat. Contoh: “Budi, 35 tahun, kerja sebagai staff admin, punya 2 anak, pengen cari tambahan penghasilan tanpa keluar rumah.” Atau “Hafiz, 32 tahun, baru belajar digital marketing, butuh panduan praktis ngeblog yang nggak ribet.”
Dengan begini, kamu nggak lagi nulis buat “orang”, tapi buat “Budi” atau “Hafiz”.
Paling gampang deh kamu manfaat ai untuk buatin kamu target pembaca sedetail mungkin, kamu minta ai itu berikan profil, apa yang jadi hesitation, frustation dan goals mereka. Gampang kan.
Langkah 2 – Pahami Masalah dan Keinginan Mereka
Target pembaca itu bukan cuma soal usia atau pekerjaan, tapi juga emosi dan kebutuhan mereka. Coba gali:
- Masalah mereka sehari-hari: kurang waktu buat nulis, bingung cari ide, takut tulisan jelek
- Keinginan atau impian: pengen dapetin Rp1 juta pertama dari blog, punya komunitas pembaca, atau bisa kerja dari rumah.
Caranya? Baca komentar di blog orang lain, intip grup Facebook yang mereka ikuti, atau tanya langsung ke teman yang profilnya mirip targetmu. Dari sini, kamu bakal nemuin banyak ide konten yang mereka butuhkan.
Kumpulkan di satu dokumen dan minta ai untuk sortir berdasarkan kategori jadi deh ide konten.
Langkah 3 – Sesuaikan Gaya Bahasa dan Isi Blog
Dulu, tulisanku berasa kaku kayak artikel majalah formal banget padahal targetku butuh bahasa yang lebih santai dan dekat. Makanya, sekarang aku ubah total.
Kamu juga bisa sesuaikan gaya bahasanya:
- Pakai bahasa sehari-hari, kayak lagi ngobrol sama temen
- Hindari istilah teknis yang bikin pusing
- Jadilah teman ngobrol, bukan dosen yang lagi ceramah seperti menggurui
Misal nih gaya penulisan yang kaku dan natural itu kek gini:
- Kaku: Dalam artikel ini penulis akan memaparkan strategi monetisasi blog (ai banget lah)
- Natural: Aku mau kasih tau cara sederhana biar blogmu bisa menghasilkan uang (aku selalu nulis kek gini seperti aku sedang ngobrol lebih seru ada feelnya)
Lihat bedanya? Yang natural lebih enak dibaca dan terasa personal iya kan.
Langkah 4 – Uji dan Perbaiki dari Data
Target pembaca itu nggak selalu fix dari awal. Kadang, kita baru nemuin “wajah” mereka setelah konsisten nulis dan lihat data. Harus data ya jangan pake feeling.
Coba perhatikan:
- Artikel mana yang paling banyak dibaca?
- Topik apa yang sering dikomentari?
- Konten seperti apa yang paling sering disimpan atau dibagikan?
Dari data itu, kamu bisa evaluasi: oh ternyata pembacaku lebih suka panduan step-by-step, atau malah lebih tertarik dengan cerita pengalaman pribadi. Perlahan, arah blogmu akan makin jelas. Ini adalah fasa evaluasi untuk semakin mempertajam siapa pembaca kamu.
Kalau kamu masih ragu-ragu dengan topik yang kamu pilih, kamu bisa baca di artikel ini, Cara Gampang Validasi Topik atau Judul Blog, Ikuti 4 Cara Ini.
Penutup
Menulis tanpa tahu pembacanya itu seperti berkirim surat tanpa alamat nggak bakal nyampe. Tapi, begitu kamu tahu siapa yang ingin kamu bantu, setiap tulisan jadi punya jiwa dan tujuan. Ini yang aku yakini di setiap blog yang aku tulis sampai hari ini, dan aku bisa tahu pesan aku nyampe ketika mereka komen itu buat seneng dan terus semangat untuk berbagi manfaat.
Semakin jelas kamu mengenal “sosok” itu, semakin cepat blogmu berkembang. Percaya deh.
Aku inget banget, andai dulu aku paham pentingnya ini, mungkin blog pertamaku nggak akan mati. Tapi justru dari situ aku belajar: setiap tulisan harus punya “seseorang” yang diajak bicara. Sekarang, giliran kamu buat terapkan. Yuk, mulai lagi dengan cara yang lebih tepat.

Posting Komentar